You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Pandak Gede
Desa Pandak Gede

Kec. Kediri, Kab. Tabanan, Provinsi Bali

Sejarah Desa

I Gusti Ayu Putu Anggita Abeliyani 10 November 2022 Dibaca 195 Kali

Untuk dapat mengungkap sejarah Desa Pandak Gede secara lengkap sangatlah sulit, karena tidak ada bukti tertulis berupa Pustaka atau Prasasti yang dipakai sebagai dasar atau acuan dalam penulisan sejarah desa. Namun berkat adanya informasi dan penuturan beberapa pengelingsir (tetua) desa yang dapat dipercaya, maka Sejarah Desa Pandak Gede dimasa silam dapat kami susun secara tertulis walaupun isinya sangat singkat dan sederhana.

Diceritakan pada suatu ketika Bali diperintah atau di pimpin oleh seorang raja yang bergelar Dalem Kresna Kepakisan yang bersemayam di Samprangan sekitar Tahun Caka 1383 M dan beliau berputra 3 (tiga) orang. Yang tertua bernama I Dewa Samprangan, beliau ini gemar sekali bersolek (berhias) sehingga hamper setiap hari waktunya dihabiskan didalam kamar untuk berhias. Yang kedua putranya bergelar I Dewa Tarukan. Beliau ini sama sekali tidak tertarik hatinya untuk menjadi raja dan beliau menjalani hidupnya sebagai seorang Pandita. Dan putranya yang ketiga yaitu yang paling bungsu bernama I Dewa Ketut Ngelesir, beliau sangan gemar berkeliling (merantau) untuk berjudi.

Pada suatu ketika setelah raja Dalem Kresna Kepakisan wafat dan digantikan oleh I Dewa Samprangan sebagai putra yang tertua dari tiga bersaudara tersebut, mulailah muncul sifat-sifat yang sejak semula gemar bersolek (berhias) tetap dibawa-bawa sehingga mendapat julukan Dalem Ile. Beberapa waktu kemudian datanglah seseorang yang ingin menghadap raja untuk urusan Pemerintahan yaitu Ki Bendesa Gelgel. Ki Bendesa Gelgel begitu lama menunggu munculnya raja I Dewa Samprangan dan rasa kesalnya sudah tidak bisa ditutupinya sehingga Ki Bendesa Gelgel keluar dan meninggalkan Istana. Hal seperti ini sering kali terjadi yang pada akhirnya roda Pemerintahan Raja I Dewa Samprangan dirasakan kurang bagus.

Para Patih, Baudanda dan para Punggawa Kerajaan sangat cemas memikirkan nasib Kerajaan (Istana), dan diputuskanlah untuk mencari jalan keluarnya yaitu dengan kesimpulan Raja I Dewa Samprangan perlu diganti. Kecemasan para Patih, Baudanda, para Punggawa Kerajaan muncul lagi, karena Dalem Ketut Ngelesir yang diharapkan dapat memimpin Kerajaan menggantikan kedudukan kakaknya yaitu I Dewa Samprangan sebagai raja tidak ada di Puri, karena kegemaran beliau suka berkeliling (merantau) dan bermain judi. Begitu besar dan harapan serta keinginan rakyat agar Dalem Ketut Ngelesir yang menjadi Raja menggatikan I Dewa Samprangan, maka dicarilah beliau yang entah dimana keberadaannya.

Para Patih, Baudanda dan para Arya yang diikuti oleh rakyat ikut menyebar menelusuri desa-desa untuk dapat menemukan Dalem Ketut Ngelesir. Sekian lamanya sudah meninggalkan istana untuk mencari Dalem Ketut Ngelesir hingga sampailah disuatu tempat (alas Sandekan) yang kebetulan Dalem Ketut Ngelesir ada disana sedang berjudi. Beliau sangat terkejut dan malu karena yang datang dihadapannya adalah para Patih, Baudanda, dan para Arya Kerajaan yang diiringi kaula (rakyatnya). Beliau kelihatan sangat bingung sambil menoleh kekanan dan kekiri serta bertanya kepada para Patih, Baudanda, dan para Arya Kerajaan. Dan beliau bisa mengerti dengan jawaban yang yang disampaikan oleh para Patih, Baudanda dan para Arya Kerajaan. Kebingunan beliau semakin bertambah untuk meninggalkan tempat tersebut, karena beliau sangat disenangi, disayangi dan dihormati oleh rakyat disana. Sejenak beliau berpikir dan akhirnya beliau mengambil kesimpulan dan memutuskan untuk memenuhi keinginan para Patih, Baudanda dan para Arya yang menghadap beliau untuk kembali ke Puri menjadi Raja menggantikan kakak andanya I Dewa Samprangan yang lebih dikenal dengan julukan Dalem Ile (suka bersolek). Dengan perasaan sedih dan berat hati beliau meninggalkan tempat itu. Suasana diselimuti dengan kesedihan yang mendalam serta keharuan dari seluruh warga (rakyat) disana atas kepergian beliau. Rakyatpun berdatangan menghaturkan sembah sujud kepada beliau dan berusaha menahan (Bhs. Bali “mandekang”) keberangkatan beliau dan memohon agar beliau tetap tinggal disana untuk selama-lamanya.

Oleh karena merupakan suatu keputusan harus meninggalkan tempat itu, beliau bersabda kepada rakyat yang mencintainya, seperti berikut : Kamung Hyang – hyang Ning Pandekan – pandekan sedaya mangke ngulun apasaha lawan kita, moge kita raharja kewredianing suka kara lana kinasihan muang penareking depara sujana mangke tekaning delana lan trimanen pawekastu prikite mangke Hyang-hyang Ning Pandekan.”

Yang artinya kurang lebih :

“Saudara-saudaraku yang berbudi luhur yang menahan keberangkatan saya untuk kembali ke Istana, sebab sudah waktunya saya berpisah dengan saudara-saudaraku sekalian. Mudah-mudahan kalian selamat, bahagia, dan selalu disayangi serta didatangi para pembesar dan para pemimpin.”

        Sejak ditinggalkannya tempat itu (pesraman) ke Puri Gelgel, tempat itu kurang mendapat perhatian lagi dari semua pihak, kecuali mereka orang penghuni pondok disekitar alas Sanekan tersebut. Karena kesan dan keindahan tempat tersebut, maka mereka para warga pondok disekitarnya mendirikan sebuah tempat pemujaan yang disucikan untuk memohon restu agar sukses selalu dalam menghadapi masalah dan pekerjaan serta selamat sentosa untuk seterusnya. Sampai saat ini ditempat itu terdapat sebuah Pura yang diberi nama Pura Lemendek atau Pura Mendek.

        Menyimak kata “ Hyang-hyang Ning Pandekan-pandekan “ diatas yang artinya kurang lebih yaitu : Saudara-saudaraku yang menahan (Bhs.Bali Mandekang) atau berhasrat besar (Bhs.Bali Mekeneh Sanget Gede). Jadi dapat diartikan secara keseluruhan yaitu Pandekan Gede (Bhs.Bali: Sanget Mandekang) yang lama-kelamaan berubah menjadi Pandak Gede sebagaimana nama Desa Pandak Gede sekarang. Dan apabila kita perhatikan kenyataan sekarang dimana kegemaran dan sifat-sifat yang dimiliki oleh Raja Dalem Ketut Ngelesir yang senang merantau (mengembara) dan senang bermain judi*, (*judi disini bermakna mempertaruhkan jiwa dan raga dalam mencari sesuap nasi/harta sebagai pedagang keliling/merantau)  kemungkinan besar karena adanya rasa keterikatan dan rasa saling mencintai satu sama lainnya yang menurun pada masyarakat Desa Pandak Gede. Mudah-mudahan apa yang telah disabdakan oleh Dalem Ketut Ngelesir menjadi kenyataan. Dan kegemaran masyarakat untuk mengembara (merantau) didalam memenuhi kehidupannya dapat dilalui dengan selamat dan sukes yang pada suatu waktu bisa digunakan sebagai bekal pulang ke desa asal untuk ikut membangun desa yaitu Desa Pandak Gede yang cintainya.

 

Demikian sejarah singkat Desa Pandak Gede dimasa silam dapat kami ungkap secara tertulis dengan harapan semoga ada manfaatnya bagi semua orang utamanya masyarakat Desa Pandak Gede.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image